Wednesday, 12 November 2014

Muhammadiyah Sensasional?

Redaksi     12:03    


Oleh :
(Mantan Pengurus PC. IMM Banda Aceh 2012)
(Mantan Pengurus PC. IMM Banda Aceh 2012)
Muhammadiyah cenderung dipahami oleh pelajar, santri, mahasiswa, dan masyrakat umum sebagai suatu aliran, cari sensasi, ingin selalu beda, bahkan bukan ahlu al-sunnah. Asumsi umum inilah yang melatarbelakangi tulisan ini. Dengan menyajikan satu contoh yang sering menjadi faktor perbincangan, tulisan ini bertujuan mencoba memberi penjelasan apakah benar Muhammadiyah sensasional? Sebelum itu, saya ingin menegaskan bahwa tulisan ini sangat amat mungkin berbeda dengan pandangan Muhammadiyah itu sendiri. Oleh sebab itu, tulisan ini murni sebagai mazhab (pendapat) pribadi penulis tentang Muhammadiyah. Semoga bermanfa'at . . . .

Muhammadiyah tidak pernah menginginkan puasa dan lebaran berbeda dengan pemerinah. Sebaliknya, Muhamadiyah ingin agar ummat ini bersatu. Hisab adalah cara yang sangat memungkinkan bersatunya ummat. Sebab, tidak mungkin di Jogja akan berbeda hasil hitungnya dengan yang ada di Aceh. Atau, di Arab tidak mungkin beda hasil hitungnya dengan di Indonesia. 

Jika Muhammadiyah ingin beda, seharusnya Muhammadiyah menunggu penetapan pemerintah terlebih dahulu baru kemudian ormas ini menetapkan kemudian. Kalau yang terjadi sebaliknya, maka pemerintah tentu dengan mudah--tinggal ikut saja-- menyamakan jadwal puasa dan berbuka (lebaran) dengan Muhammadiyah, dan Muhammadiyah tidak akan mungkin mengganti jadwal yang sudah ditentukannya.
Perbedaan puasa dan lebaran justeru sesuatu yang irrasional, tidak logis, dan tidak bisa diterima. Apa lagi perbedaannya amat mencolok; 2 sampai 3 hari. Padahal negara-negara di dunia hanya selisih jam saja, tidak sampai 1 hari. Logika sederhananya, untuk perhitungan masehi, kalender sudah diberi tanggal sampai kapan pun kita mau. Karena mata hari berada di garis edarnya (al-qamaru bi husban). Mengapa untuk perhitungan dengan bulan (syamsiyah) tidak demikian? Padahal ayatnya juga sama; (al-syamsu wa al-qamaru bi husban). 

Bagaimana dengan hadits yang menyuruh kita ru'yah? Kata ru'yah dalam tradisi dahulu memang dimaknai dengan melihat pakai mata telanjang (tidak ada kaca mata, apa lagi teropong canggih). Jika ingin konsisten mempertahankan car lama ini, maka teropong dan kaca mata tentu tidak boleh digunakan. Jika digunakan, maka terjadi inkonsistensi dalam pengamalannya. Namun, belakangan ini kondisinya sudah berbeda. Prof. Yusni Sabi pernah menjelaskan, melihat itu ada tingkatan; dengan mata dan dengan ilmu. Sampai di sini, hadits tentang ru'yah bisa saja dipahami sebagai upaya melihat hilal dengan ilmu (dalam hal ini adalah ilmu hisab). 
Foto : FB Khairi Akbar
Dalam mengomentari hadits tentang ru'yah, Yusuf Qardhawi menyebut hadits seperti ini harus dilihat ruh atau tujuannya, yaitu ingin mengetahui keberadaan hilal; sudah muncul atau belum. Jadi, puasa dan lebaran itu bukan karena ru'yah melainkan karena keberadaan hilal itu sendiri. Dahulu menurut Yusuf Qardhawi, cara itulah yang paling mungkin dan mudah dilakukan. Tidak mungkin syari'at membebani ummat dahulu dengan hisab yang pakar tentang itu sendiri terbilang nihil, bahkan ilmu ini dahulu dianggap sebagai sesuatu yang mistik. Untuk kondisi hari ini, jika cara itu (ru'yah) dianggap menyulitkan dan serba mahal, hasilnya juga tidak seragam, maka kita harus beralih ke hisab. Ketidakpuasan manusia kini menghasilkan meode ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan hasilnya.

Dapat disimpulkan bahwa hisab juga sejalan dengan sunnah dan syari'at yang menghendaki kemudahan; bukan dimudah-mudahkan. Demikian pula halnya dengan ru'yah yang sejak lama dipraktekkan ummat dalam menentukan jadwal ramadhan dan syawal. Jadi, hisab dan ru'yah bukanlah suatu cara yang kontroversial, yang salah satunya harus benar. Hisab dan ru'yah hanya soal cara yang berbeda dengan tujuan yang sama. Pada dasarnya, kita semua menggunakan hisab, namun sebagian kita mempermasalahkannya dalam penentuan awal bulan. Ketika hendak shalat, kita tidak pernah berdiri di terik mata hari untuk melihat bayang-bayang, namun, giliran ramadhan, kita bersikeras menganggap hisab sebagai hal yang baharu (bid'ah), karena Nabi tidak pernah mencontohkannya. Hal ini diperparah dengan jurus serangan balik. Mereka berkata, "Katanya menentang bid'ah, tapi malah melakukan bid'ah yang nyata". 

Allahu a'lam......


Banda Aceh, 24 Juli 2014

0 komentar :

Kementar Facebook

© 2011- | Haba IMM Banda Aceh.
Designed by